Tuesday, May 05, 2009

Nurani : Ilham Allah kepada Manusia

Nurani adalah ilham dari Allah kepada manusia untuk bersikap dan berperilaku yang baik dan untuk membantu manusia berpikir lurus serta membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Nurani juga menjauhkan manusia dari perbuatan yang buruk dan untuk menunjukkan jalan yang benar. Karena alasan-alasan tersebut, maka sangat penting bagi manusia untuk menjadikan nuraninya sebagai pemandu, mendengar apa yang dibisikkannya, dan berbuat sesuai dengannya ( mengikutinya ).

Karena berasal dari sumber yang sama (Allah), apa yang dirasa benar oleh nurani seseorang juga dirasa benar oleh nurani semua orang lainnya asalkan berlaku kondisi-kondisi yang sama.

Mulai dari saat akil balig, setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang diilhamkan Allah kepadanya dan apa yang dibisikkan oleh nuraninya. Jika dia mau mendengar nuraninya, dia akan selaras dengan kehendak-Nya dan akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.


Nurani mengantarkan kesadaran kepada adanya Allah


Hal pertama yang akan dilakukan seseorang yang mau mendengar nuraninya adalah mencari jawaban terhadap hal-hal yang terlihat disekelilingnya. Dia akan merenungkan bagaimana dirinya dan alam semesta yang ditempatinya dapat terjadi dan bagaimana semua ini terpelihara. Jawabannya, itu semua tidak mungkin terjadi dengan sendirinya secara kebetulan, pasti didisain dan dirancang oleh seorang pencipta. Sang Pencipta ini adalah Allah. Siapapun yang mengikuti nuraninya akan melihat fakta ini, bahkan jika tidak ada seorangpun yang memberitahunya.

Seseorang yang tidak dapat mencapai kesimpulan ini, yang tidak dapat melihat atau memahami fakta-fakta yang ditemuinya, dengan tidak mau mendengar nuraninya, adalah seseorang yang tidak bijaksana, tidak peduli betapa cerdas dan banyak pengetahuannya. Mereka menolak fakta adanya Allah bukan karena mereka sungguh-sungguh tidak mempercayai-Nya namun karena mereka ingin menghindar dari konsekuensi yang harus mereka taati sebagai orang-orang yang beriman. Konsekuensi tersebut adalah bahwa mereka harus mematuhi hukum-hukum Nya dan hidup untuk-Nya. Inilah alasan utama kenapa seseorang menolak keberadaan Allah, walaupun hati nuraninya sendiri berkata sebaliknya.


Nurani menjelaskan maksud penciptaan manusia melalui Kitab-Nya


Setelah menyadari bahwa dirinya dan alam semesta yang ditempatinya diciptakan dan dipelihara oleh Allah, dengan bantuan nurani, seorang manusia akan menyadari dan mencapai kesimpulan lain : “segala sesuatu yang diciptakan Allah dengan disain yang sangat sempurna dan tanpa cacat ini mestilah tentu ada maksudnya. Setiap sesuatu ada tugasnya, termasuk manusia. Lalu apa maksud dan tugas penciptaan manusia oleh Allah ini?” Dengan bantuan nurani manusia menyadari bahwa potongan-potongan informasi yang didengarnya dari orang lain tidaklah memadai atau malah bisa menyesatkan. Secara alami dia berpikir bahwa petunjuk terbaik untuk mengenal Allah dan mengetahui apa yang diinginkan-Nya dari dirinya dan maksud dia diciptakan adalah melalui kitab-kitab yang diturunkan-Nya. Dengan nuraninya dia berpikir bahwa diantara kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya tersebut, mestilah kitab yang paling terakhir diturunkan yang paling sempurna dan mencakup kitab-kitab sebelumnya. Kitab tersebut juga harus mendapatkan jaminan tertulis dipelihara dan dijaga oleh-Nya. Kitab suci seperti itulah yang dia harus jadikan pedoman didalam hidupnya.


Dunia adalah sebuah ujian yang bersifat sementara


Dengan bantuan nurani dan Al-quran, manusia mengetahui maksud dan tugas penciptaan dirinya di kehidupan ini, yaitu bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah ujian dan ia ditugaskan dalam ujian itu sebagai wakil Allah (Khalifatullah), yaitu untuk mengimplementasikan seluruh potensi dirinya berupa fitrah yang berasal dari percikan sifat-sifat Allah yang tercermin dalam Asmaul Husna.

Karena manusia diuji dalam kehidupan dunia ini, tentunya harus ada hasil akhir dari ujian ini. Dan kematian di dunia bukanlah sebuah hasil akhir. Orang-orang yang pernah hidup pada masa lalu dan kini telah mati, baik mereka yang baik maupun yang jahat sama-sama sudah masuk ke liang kubur. Pada hari ini,tak ada yang berbeda dari mereka, yang tersisa hanya tulang-belulangnya saja. Allah, Yang Maha Adil, tentu tak akan membiarkan kehidupan dunia selesai begitu saja, dan mereka yang baik maupun yang jahat mendapat hasil yang sama.


Akhirat : Kehidupan sesungguhnya yang abadi setelah mati


Kehidupan di dunia adalah sebuah ujian yang sifatnya sementara dan kehidupan sesungguhnya, yaitu di akhirat, akan dimulai setelah manusia menemui kematian. Pada saat itu, setiap orang akan mendapatkan hasil yang berbeda di akhirat kelak sesuai dengan amal perbuatannya di dunia ini. Mereka yang menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah akan tinggal selama-lamanya di Surga, sementara bagi yang lainnya, mereka akan tinggal selama-lamanya di Neraka tempat penderitaan dan kesulitan yang paling dahsyat.

Jika manusia sudah bisa memahami hal ini, tidaklah layak bagi manusia yang mempunyai nurani menjadikan tujuan hidupnya di dunia untuk bersenda gurau dan bermain-main serta tak sedikitpun mengandung kerisauan mengenai soal kematian dan akhirat. Padahal, upaya untuk memvisualisasikan saat-saat kematian di dalam benak akan membuat manusia berperilaku seratus persen ikhlas dan sangat berhati-hati.

Jika manusia tidak mengindahkan keridahaan Allah disepanjang hayatnya dan tidak berupaya semaksimal mungkin guna mencapai keridhaan-Nya, perasaan yang akan dialami pada saat kematian adalah penyesalan mendalam yang sudah tidak ada gunanya lagi. Di Akhirat, manusia akan diperlihatkan semua hal yang pernah dilakukan dan dipikirkannya disepanjang hayatnya dulu di dunia. Pikiran-pikiran yang dikiranya tak ada seorangpun yang tahu, akan diperlihatkan didepan matanya.


Mencari Ridha Allah disepanjang waktu kehidupan


Jika melalui nuraninya manusia sudah bisa menyadari bahwa dia diciptakan dan diuji oleh Allah kedalam dunia ini dengan tugas sebagai wakil Allah, dan hasil akhir dari ujian itu akan dipertanggung-jawabkan olehnya di Akhirat nanti, maka satu-satunya hal penting yang menjadi tujuan didalam hidupnya adalah untuk beribadah dan mencari keridhaan Allah semata disepanjang kehidupannya. Ini artinya bahwa dalam semua perkataan, keputusan, dan perbuatannya, manusia harus memperhatikan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Mereka tidak pernah mencari keridhaan dari orang lain, atau mencemaskan kedudukannya di dalam pandangan mereka.

Seseorang yang telah memutuskan untuk mencari ridha Allah di sepanjang hidupnya, lalu mencari cara bagaimana agar mendapat keridahaan Allah tersebut. Sekali lagi, nuraninya memberitahunya untuk kembali melihat kepada kitab suci-Nya, sebagai satu-satunya petunjuk terbaik untuk mengenal Allah dan mengetahui apa yang diinginkan-Nya dari dirinya dan maksud dia diciptakan.


Menghidupkan Al-Qur’an untuk mendapat ridha-Nya


Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menjelaskan semua perintah-Nya dan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Seseorang yang bertindak sesuai dengan nuraninya, sangat menjaga apa-apa yang telah diperintahkan dan dilarang itu dengan melaksanakannya dengan sangat ikhlas sejauh pemahaman dan kemampuannya. Beberapa perintah yang tercantum di dalam Al Qur’an :

1. Menjalankan peribadatan-peribadatan tertentu : Shalat lima waktu

2. Berlaku adil dalam segala suasan dan kondisi. ( Al Ma’idah : 8 )

- Berlaku adil dalam kondisi yang bertentangan dengan kepentingan diri dan golongannya.

- Berlaku adil dalam suasana kemarahan dan kebencian terhadap suatu kaum

3. Menjauhi prasangka, gosip dan mencari-cari kesalahan orang lain. ( Al Hujarat : 12 )

Seseorang yang suka menggunjing (gosip) dan mencari-cari kesalahan orang lain pastilah aktivitas-aktivitas tersebut didasari sebelumnya oleh adanya prasangka-prasangka. Oleh karena itu, jauhilah prasangka !.

Tiga karakter tercela pada point 3 di atas, seringkali ditimbulkan karena perasaan iri, dengki, dan dendam.

“ Jadikanlah semua pikiran dan perbuatanmu berorientasi pada akhirat “


4. Memberi kemudahan pada orang yang berhutang. ( Al Baqarah : 280 )


Nurani berusaha mencari perilaku yang paling membuat Allah Ridha


Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah." Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?" Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? ( QS. Yunus : 31- 32 )

Seseorang yang sungguh-sungguh menggunakan nuraninya akan berpikir bahwa pengenalan atas Allah dan mengakui keberadaan-Nya saja tidaklah cukup. Mereka juga tidak merasa puas dengan hanya sekedar melakukan ibadah-ibadah ritual tertentu yang telah mereka hapal secara tradisi dan kebiasaan saja, sebagaimana yang telah mereka lihat dari orang-orang tua mereka. Sebaliknya seseorang akan berpikir bagaimana caranya agar supaya dia dapat mengamalkan setiap amal ibadah dengan berupaya menggunakan seluruh kemampuan terbaiknya dan dengan cara yang sebaik-baiknya agar tercapai keridhaan tertinggi dari Allah.

Salah satu contoh dari Al-Qur’an tentang upaya itu adalah adanya perintah “mengucapkan perkataan yang terbaik”:

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. ( QS. Al-Isra’ : 53 ).

Contoh lainnya adalah petunjuk dari Allah kepada mereka yang mengikuti perkataan terbaik yang telah didengarnya :

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. ( Qs. Az-Zumar : 18 )

Nurani akan menuntun seseorang untuk selalu berlomba-lomba satu sama lain untuk mencapai keridhaan tertinggi dari Allah, dan melangkah lebih maju dalam setiap tugas dan amal kebajikan, tanpa menunggu-nunggu orang lain mengerjakannya.

Nurani juga akan membawa seseorang kepada rasa takut yang berbeda dengan ketakutan-ketakutan yang dialami orang lain; ini adalah rasa takut kehilangan ridha Allah. Seluruh hidup dari seseorang yang punya rasa takut seperti ini dihabiskan semata-mata guna mencapai keridhaan Tuhannya.

Selain itu, sepanjang hidupnya seseorang harus berjuang untuk mencapai tingkat pemahaman tertinggi yang mungkin dicapai oleh pemikiran manusia terhadap kebesaran dan keagungan Allah dan berusaha mendekat kepada-Nya dan menjadi kesayangan-Nya.


Nurani memahami bahwa dia harus mendekat kepada Allah


Selain mencari keridhaan tertinggi dari Allah, seorang manusia sepanjang hidupnya harus selalu berusaha untuk mendekat kepada-Nya. Hal ini merupakan pokok persoalan penting yang tidak boleh dilupakannya.

Alasan nurani memahami bahwa dia harus mendekat kepada Allah adalah adanya kesadaran bahwa Allah telah berkehendak menciptakan dirinya dari ketiadaan. Dari tidak ada menjadi ada. Kalau Allah tidak menghendakinya, maka dia tetap saja tidak ada. Alasan lain adalah bahwa Allah telah mempersiapkan dan memberinya segala hal yang diperlukannya untuk hidup. Tubuhnya bekerja dengan sempurna tanpa dia pikirkan dan panca indranya berfungsi dengan baik menangkap sinyal-sinyal yang dibutuhkan. Kalau Allah berkehendak, mungkin saja salah satu dari fungsi-fungsi tersebut bekerja dengan tidak sempurna atau mengalami gangguan.

Selain alasan-alasan di atas, banyak sekali rahmat Allah lainnya kepada umat manusia. Adalah tidak mungkin untuk menyebut semua nikmat Allah, sebagaimana dinyatakan di dalam ayat :

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. An-Nahl:18 )

Intinya, segala rahmat yang kita terima sepanjang hidup kita adalah dari Allah semata :

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? ( QS. Fathir : 2-3 )

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keberlangsungan eksistensi manusia hanya dimungkinkan karena kehendak Allah, maka sungguh masuk akal bahwa Allah-lah Dzat yang paling penting, dan pokok persoalan yang terpenting pun adalah bagaimana caranya agar dapat mendekat kepada-Nya.

Manusia harus mengerti bahwa mendapatkan keridhaan Allah dan mendekat kepadanya adalah satu-satunya cara agar dirinya bisa mendapatkan keselamatan, kebahagiaan dan ketentraman.


IQRA' : Spirit para pembelajar


IQRA’, bacalah…!. Ayat pertama yang diturunkan Allah ini memiliki nilai keutamaan yang tinggi dan membaca merupakan cara pertama dalam proses mendapatkan pengetahuan. Perintah membaca ini dimaksudkan dalam arti luas dan tidak direduksi sekedar membaca rangkaian kata pada sebuah buku atau artikel. Seluruh alam semesta dan seisinya –termasuk makhluk hidup, adalah obyek dari ‘membaca’ yang dimaksud pada ayat ini. Pada kegiatan membaca yang benar, kita juga diminta untuk merenung, berpikir, membandingkan, menganalisa dan membuat kesimpulan dari apa yang kita baca.

Seseorang yang mampu membaca fenomena alam kemudian ia merenung, berpikir, menganalisa dan membuat kesimpulan maka dari dirinya kemungkinan akan terlahir teori-teori dari ilmu pasti atau eksakta. Begitu pula seseorang yang mampu ‘membaca’ sifat dan karakter orang lainnya –harapan dan keinginannya, maka mungkin akan terlahir teori-teori baru dari ilmu-ilmu sosial dan ekonomi. Istilah-istilah seperti “pandai membaca pasar”, “jeli menangkap peluang”, “pintar memahami perasaan orang lain”, sering kita berikan bagi seseorang yang mampu melakukan kegiatan membaca -dalam arti luas ini, secara baik dan benar.

Kegiatan ‘membaca’ ini bersifat universal dan dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan oleh penjahat sekalipun. Allah Yang Maha Adil dan Maha Pemurah tentu tetap akan memberikan hasil terhadap apa-apa yang dipelajarinya. Pengetahuan berupa kefahaman terhadap kelemahan dan kelengahan calon-calon korbannya. Atau celah-celah untuk berbuat korupsi dan kecurangan lainnya di tempat kerjanya. Lalu pertanyaannya, apa kegiatan ‘membaca’ seperti ini yang dimaksudkan pada ayat IQRA’ di atas ?. Sudah pasti bukan.

Kegiatan ‘membaca’ ini harus bertujuan untuk menimbulkan dan sekaligus menguatkan sebuah kesadaran bahwa segala sesuatu diciptakan dan juga dipelihara oleh Allah dengan segala kebijaksanaan-Nya yang penuh dengan kesempurnaan. Kesadaran ini juga berimplikasi pada kesadaran lain bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah dengan disain yang sangat sempurna dan tanpa cacat ini mestilah tentu ada maksud dan tugasnya, termasuk manusia. Maksud penciptaan manusia di dunia adalah sebagai ujian dari Allah bagi dirinya, untuk menjalankan tugas sebagai wakil Allah (Khalifatullah), yaitu untuk mengimplementasikan seluruh potensi dirinya berupa fitrah yang berasal dari percikan sifat-sifat Allah yang tercermin dalam Asmaul Husna.